Sabtu, 28 Desember 2013

KARENA HUJAN PUNYA CERITA SENDIRI


“Aku udah capek sama sikap dinginmu itu, aku capek sayang.” Suara cewek itu terdengar sampai ke telingaku yang sedang asik duduk di sudut cafe menikmati secangkir milo hangat. Ku lihat di ujung sana ada dua sejoli yang sedang mendebatkan sesuatu tentang hubungan mereka. Aku sendiri di sudut ruangan ini menikmati hujan yang tak kunjung berhenti, menyapu kotoran semesta dengan cara membasahinya, harum khas yang muncul dari aroma tanah yang terguyur hujan pun tak luput dari indera penciumankku, aku merasa nyaman di sudut ruangan ini menikmati semua yang ada di sekitarku, mengamatinya dan merasakan apa yang sedang mereka semua rasakan.
            Ya memang hujan sering kali ditunggu banyak orang, menikmati setiap butir-butir air yang turun membasahi kelopak bunga yang mulai mekar, membasahi jalanan yang sudah lelah dilindas kendaraan ibu kota, membasahi bangunan yang sudah rapuh tergerus zaman, tapi tidak dengan kenangan. Kenangan selalu muncul di setiap hujan turun, entah kenangan bersama orang yang terkasih, entah kenangan dengan orang yang paling dibenci sekalipun itu.
“Setiap hujan turun, aku merasa bahagia menikmati segala yang terjadi begitu pun hubungan kita, aku ingin menikmatinya walau sikap kamu seperti itu ke aku” Ucap wanita itu sambil menatap tajam cowok yang ada di depannya.
“Ya, hujan memang selalu membuat kita tertawa riang, hujan pula yang mempertemukan kita sehingga bisa sampai sekarang ini, menjadi pasangan kekasih, hujan memang indah kalau aku menikmatinya bersamamu, bersama kamu yang aku sayang”. Aku melihat cowok itu dengan serius mengutarakan isi hatinya di depan wanita itu sambil menggenggam erat kedua tangan wanita yang di depannya.
Aku di sini tetap menikmati kesendirianku, menikmati hujan yang turun dengan sejuta cerita yang terkandung, melihat orang sekitarku sedang memikirkan sesuatu yang mungkin tak pernah aku pikirkan sebelumnya, mengamati alam semesta yang indah ketika terguyur air hujan. Sore ini aku mendengarkan lagu favoritku, semua lagu yang dibawakan band asal jakarta ya band Naif. Aku sangat mengagumi band yang mulai aku suka dari bangku SMP.
******
            Sore itu tetap di tempat yang sama aku melihat sosok bapak-bapak yang sedang bereteduh dengan sepada motor tuanya, ya terlihat jelas bapak itu sedang gelisah, tak jarang ia sering melihat awan kelam di atas langit, membalik telapak tangan hanya untuk sekadar memastikan apakah hujan sudah reda atau belum.
Aku paham benar dengan apa yang sedang dipikirkan sosok tua itu, ya mungkin bapak itu memikirkan keluarganya di rumah, sosok istri yang menunggu kedatangan suaminya setelah bekerja membanting tulang seharian, anak-anak yang siap menyambutnya dengan senyum semringah seperti kedatangan malaikat yang selalu memberikan cerita dan warna dalam hidupnya.
Tak tega aku melihat sosok tua itu dari dalam caffee ini, aku pun lantas keluar dan menghampiri sosok tua itu, ya. Bapak itu mengingatkanku pada sosok orang tuaku yang sedang jauh di desa sana, kebetulan memang saya di sini sebagai anak perantau, yang mencari ilmu demi masa depanku, demi kedua orang tuaku, demi semua yang menyertai setiap langkah hidupku. Ya aku adalah seorang mahasiswa yang tinggal di kota yang banyak cerita indah ini.
“Sudah lama Pak di sini? Mungkin ini ada kopi hangat untuk Bapak, terimalah”
“Ya mungkin sudah hampir setengah jam dik Bapak di sini, Ya terima kasih dik. Tahu saja kalau bapak di sini kedinginan hehe” Ucap bapak itu dengan semringah menerima pemberian kopi dariku.
“Iya pak, saya daritadi ada di dalam cafffe itu, melihat Bapak sendirian disini saya jadi ingat orang tua saya yang ada di kampung halaman” Aku pun mulai mendekati bapak itu, ya. Sosok yang tak jauh beda dengan orang tuaku.
“Adik kuliah di sini, wah jangan sia-siakan masa mudamu ya, jangan sampai seperti bapak ini, hanya jadi buruh pabrik. Kuliah yang rajin biar bisa jadi orang yang membanggakan orang disekitarmu.” Bapak itu sambil memegang pundak dan menatap tajam ke arahku, ya sekali lagi apa yang dikatakan sama persis dengan pesan yang diucapkan orang tuaku ketika aku hendak pergi merantau di kota ini.
Hujan pun berhenti, seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan bapak itu. Ya tak lama kemudian secuil pelangi terlihat di ufuk timur tempat kami berteduh, bapak itu tersenyum melihat pelangi itu seolah harapan untuk pulang ke rumah sudah datang. Ya, pelangi yang memisahkan kita berdua, meski tak sempat aku berkenalan dengannya tapi aku pikir bapak itu orang yang spesial di mataku. Sedikit pesannya untukku tapi akan selalu ku ingat sepanjang waktu.
“Saya pamit dulu dik, sudah ditunggu anak dan istri di rumah. Terima kasih kopinya.” Bapak itu berpamitan dengan gayanya tersendiri, tekstur tangannya yang keriput tergerus usia terlihat otot-otot yang sudah mulai tampak keluar, tapi bapak itu terlihat sehat. Ya mungkin keadaan yang membuatnya seperti itu, harus bekerja keras membanting tulang demi keluarga yang dicintainya.
******
Ke esokan harinya sama seperti kemarin, hujan turun di saat orang-orang sedang menuju ke tempat singgahnya. Aku pun sepulang kuliah tak langsung pulang, harus berteduh lagi di tempat yang sama, dengan pesanan menu yang sama, tapi tidak pada kondisi yang sama. Ya, hari itu aku bertemu dengan sosok tua itu lagi, tapi di kondisi yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya.
“Ciiiiiiiiiiiiit, bruaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!” terdengar suara itu sampai ke dalam caffee, sontak aku berdiri melihat ke arah sumber suara, ya aku melihat bapak itu terlentang tak berdaya di atas jalanan yang terguyur hujan. Aku melihat kendaraan lain yang menabraknya, tapi tak berhenti melainkan terus melanjutkan perjalanan.
“Sialan! Orang tak tanggung jawab”. Suaraku sambil berusaha mengejar kendaraan itu tapi tak lantas aku bisa mengikutinya, aku pun kembali ke bapak itu, hanya ada aku dan dua orang yang ketika itu menolong bapak itu.
“Bapak tidak apa-apa, saya antar ke rumah sakit ya? Ini luka bapak tidak main-main”. Tuturku kepada bapak yang masih tak berdaya mengangkat sebagian tubuhnya ke atas motorku.
“Tidak dik, bapak harus pulang sekarang, istri bapak sakitnya kambuh. Bapak harus segera pulang, kasihan istri bapak.” Bapak itu mengeyel untuk pulang ke rumah dan tak ingin mengobati luka-luka yang dideranya setelah mengalami kecelakaan. Aku pun tak lantas diam begitu saja, aku tetap memaksa bapak itu untuk berobat. Ya aku tak ingin bapak itu sakit, aku merasa ada sesuatu yang teramat spesial dari sosok tua itu.
“Bagaimana Pak, sudah mendingan kan? Sekarang bapak mau kemana? Biar saya antar, kasihan bapak kalau pulang sendiri.” Ya, di klinik ini aku menemani bapak itu, ia tampak gelisah ingin sekali bergegas pulang menemui istrinya yang sedang sakit, bapak itu pun bertekad untuk pulang mengendarai kendaraan sendiri, tapi aku tak lantas membiarkannya, aku antar bapak itu ke rumahnya. Aku khawatir dengan kondisi bapak itu.
******
            “Ini pak rumahnya?” Ya, waktu sudah berganti dari sore hari menjadi gelap, tak ku bayangkan jarak rumah bapak itu dengan kantornya sangat jauh, sekitar 3 jam perjalanan dengan motor. Aku terheran-heran berdiri di depan rumah bapak itu, belum bisa berpikir setiap hari bapak itu pergi bekerja dengan jarak yang ditempuh tidaklah cukup dekat. Aku melihat sambutan dari kedua anak bapak yang sudah cukup besar, kehangatan keluarga yang aku rasakan menjadikan aku semakin rindu dengan kampung halaman.
            “Silahkan masuk Mas, Bapak kenapa? Kenapa tangan bapak? Mas kenapa Bapak saya?” Ya untaian pertanyaan yang menghujam aku dari salah satu anak bapak yang usaianya kira-kira 15 tahun, aku pun masuk dan menceritakan semua kronologi kejadian yang telah terjadi pada saat tadi. Kedua anak bapak tak henti-hentinya memijat badan si Bapak tersebut, tak lupa sang Istri yang sejatinya masih bergelut dengan rasa sakit menyediakan aku segelas teh hangat, dan beberapa gorangan. Ya meski sederhana, tapi ini sudah lebih dari cukup, aku merasakan nikmatnya keluarga ini, menikmati sambutan hangat dari kedua anaknya bapak, sang istri dan sosok bapak tua itu yang tak henti-hentinya mengucap terima kasih kepadaku.
            Malam sudah semakin pekat, suara khas pedesaan terdengar nyaring di telinga, gemercik air sungai dan serempak suara jangkrik yang saling bersautan satu sama lain, tak jarang ada suara kodok yang menyambar ketika kita berbicara panjang lebar.
            “Adik menginap di sini saja ya, balik besok pagi. Sudah terlalu malam kalau adik balik sekarang, jalanan di sini sepi. Rawan kejahatan”. Istri bapak itu menawariku untuk singgah di tempat mereka malam ini saja, ya aku tak bisa apa-apa, demi kebaikanku aku pun mengiyakan tawaran ibu itu untuk menginap di rumah bapak.
            Dingin malam ini menutup akhir cerita hari ini, Ya mungkin cerita seharian tadi tak cukup enak dialami karena kejadian kecelakaan itu, tapi dibalik itu aku menemukan keluarga baru, keluarga yang sejatinya sama dengan apa yang aku rasakan ketika di kampung halaman. Bapak, Ibu, dan Kedua adik ku. Aku merindukan mereka semua yanga da di rumah, tapi aku masih tetap berjanji pada diriku sendiri, pantang pulang sebelum sukses. Aku ingin pulang ke rumah dengan segala kesuksesanku, memberikan yang terbaik untuk orang-orang rumah.
              Ya, semoga aku bisa menjadi pelangi ketika hujan sudah reda, semoga aku bisa menjadi pelita, menjadi sesuatu yang bisa diharapkan dan dibanggakan kedua orang tuaku kelak, karena aku tak mau menyia-nyiakan usaha mereka berdua menyekolahkan aku jauh-jauh di kota ini.
            Ya memang ini tak gampang, tapi aku yakin kalau tetap berusaha semua akan indah pada waktunya.


***Selesai*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar