“Aku udah
capek sama sikap dinginmu itu, aku capek sayang.” Suara cewek itu terdengar
sampai ke telingaku yang sedang asik duduk di sudut cafe menikmati secangkir
milo hangat. Ku lihat di ujung sana ada dua sejoli yang sedang mendebatkan
sesuatu tentang hubungan mereka. Aku sendiri di sudut ruangan ini menikmati
hujan yang tak kunjung berhenti, menyapu kotoran semesta dengan cara
membasahinya, harum khas yang muncul dari aroma tanah yang terguyur hujan pun
tak luput dari indera penciumankku, aku merasa nyaman di sudut ruangan ini
menikmati semua yang ada di sekitarku, mengamatinya dan merasakan apa yang
sedang mereka semua rasakan.
Ya
memang hujan sering kali ditunggu banyak orang, menikmati setiap butir-butir
air yang turun membasahi kelopak bunga yang mulai mekar, membasahi jalanan yang
sudah lelah dilindas kendaraan ibu kota, membasahi bangunan yang sudah rapuh
tergerus zaman, tapi tidak dengan kenangan. Kenangan selalu muncul di setiap
hujan turun, entah kenangan bersama orang yang terkasih, entah kenangan dengan
orang yang paling dibenci sekalipun itu.
“Setiap hujan
turun, aku merasa bahagia menikmati segala yang terjadi begitu pun hubungan
kita, aku ingin menikmatinya walau sikap kamu seperti itu ke aku” Ucap wanita
itu sambil menatap tajam cowok yang ada di depannya.
“Ya, hujan
memang selalu membuat kita tertawa riang, hujan pula yang mempertemukan kita
sehingga bisa sampai sekarang ini, menjadi pasangan kekasih, hujan memang indah
kalau aku menikmatinya bersamamu, bersama kamu yang aku sayang”. Aku melihat cowok
itu dengan serius mengutarakan isi hatinya di depan wanita itu sambil
menggenggam erat kedua tangan wanita yang di depannya.
Aku di sini
tetap menikmati kesendirianku, menikmati hujan yang turun dengan sejuta cerita
yang terkandung, melihat orang sekitarku sedang memikirkan sesuatu yang mungkin
tak pernah aku pikirkan sebelumnya, mengamati alam semesta yang indah ketika
terguyur air hujan. Sore ini aku mendengarkan lagu favoritku, semua lagu yang
dibawakan band asal jakarta ya band Naif. Aku sangat mengagumi band yang mulai
aku suka dari bangku SMP.
******
Sore
itu tetap di tempat yang sama aku melihat sosok bapak-bapak yang sedang
bereteduh dengan sepada motor tuanya, ya terlihat jelas bapak itu sedang
gelisah, tak jarang ia sering melihat awan kelam di atas langit, membalik
telapak tangan hanya untuk sekadar memastikan apakah hujan sudah reda atau
belum.
Aku paham
benar dengan apa yang sedang dipikirkan sosok tua itu, ya mungkin bapak itu
memikirkan keluarganya di rumah, sosok istri yang menunggu kedatangan suaminya
setelah bekerja membanting tulang seharian, anak-anak yang siap menyambutnya
dengan senyum semringah seperti kedatangan malaikat yang selalu memberikan
cerita dan warna dalam hidupnya.
Tak tega aku
melihat sosok tua itu dari dalam caffee ini, aku pun lantas keluar dan
menghampiri sosok tua itu, ya. Bapak itu mengingatkanku pada sosok orang tuaku
yang sedang jauh di desa sana, kebetulan memang saya di sini sebagai anak
perantau, yang mencari ilmu demi masa depanku, demi kedua orang tuaku, demi
semua yang menyertai setiap langkah hidupku. Ya aku adalah seorang mahasiswa
yang tinggal di kota yang banyak cerita indah ini.
“Sudah lama
Pak di sini? Mungkin ini ada kopi hangat untuk Bapak, terimalah”
“Ya mungkin
sudah hampir setengah jam dik Bapak di sini, Ya terima kasih dik. Tahu saja
kalau bapak di sini kedinginan hehe” Ucap bapak itu dengan semringah menerima
pemberian kopi dariku.
“Iya pak, saya
daritadi ada di dalam cafffe itu, melihat Bapak sendirian disini saya jadi
ingat orang tua saya yang ada di kampung halaman” Aku pun mulai mendekati bapak
itu, ya. Sosok yang tak jauh beda dengan orang tuaku.
“Adik kuliah
di sini, wah jangan sia-siakan masa mudamu ya, jangan sampai seperti bapak ini,
hanya jadi buruh pabrik. Kuliah yang rajin biar bisa jadi orang yang
membanggakan orang disekitarmu.” Bapak itu sambil memegang pundak dan menatap
tajam ke arahku, ya sekali lagi apa yang dikatakan sama persis dengan pesan
yang diucapkan orang tuaku ketika aku hendak pergi merantau di kota ini.
Hujan pun
berhenti, seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan bapak itu. Ya tak lama
kemudian secuil pelangi terlihat di ufuk timur tempat kami berteduh, bapak itu
tersenyum melihat pelangi itu seolah harapan untuk pulang ke rumah sudah
datang. Ya, pelangi yang memisahkan kita berdua, meski tak sempat aku
berkenalan dengannya tapi aku pikir bapak itu orang yang spesial di mataku.
Sedikit pesannya untukku tapi akan selalu ku ingat sepanjang waktu.
“Saya pamit
dulu dik, sudah ditunggu anak dan istri di rumah. Terima kasih kopinya.” Bapak
itu berpamitan dengan gayanya tersendiri, tekstur tangannya yang keriput
tergerus usia terlihat otot-otot yang sudah mulai tampak keluar, tapi bapak itu
terlihat sehat. Ya mungkin keadaan yang membuatnya seperti itu, harus bekerja
keras membanting tulang demi keluarga yang dicintainya.
******
Ke esokan
harinya sama seperti kemarin, hujan turun di saat orang-orang sedang menuju ke
tempat singgahnya. Aku pun sepulang kuliah tak langsung pulang, harus berteduh
lagi di tempat yang sama, dengan pesanan menu yang sama, tapi tidak pada
kondisi yang sama. Ya, hari itu aku bertemu dengan sosok tua itu lagi, tapi di
kondisi yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya.
“Ciiiiiiiiiiiiit,
bruaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!” terdengar suara itu sampai ke dalam caffee, sontak
aku berdiri melihat ke arah sumber suara, ya aku melihat bapak itu terlentang
tak berdaya di atas jalanan yang terguyur hujan. Aku melihat kendaraan lain
yang menabraknya, tapi tak berhenti melainkan terus melanjutkan perjalanan.
“Sialan! Orang
tak tanggung jawab”. Suaraku sambil berusaha mengejar kendaraan itu tapi tak
lantas aku bisa mengikutinya, aku pun kembali ke bapak itu, hanya ada aku dan
dua orang yang ketika itu menolong bapak itu.
“Bapak tidak
apa-apa, saya antar ke rumah sakit ya? Ini luka bapak tidak main-main”. Tuturku
kepada bapak yang masih tak berdaya mengangkat sebagian tubuhnya ke atas
motorku.
“Tidak dik,
bapak harus pulang sekarang, istri bapak sakitnya kambuh. Bapak harus segera
pulang, kasihan istri bapak.” Bapak itu mengeyel untuk pulang ke rumah dan tak
ingin mengobati luka-luka yang dideranya setelah mengalami kecelakaan. Aku pun
tak lantas diam begitu saja, aku tetap memaksa bapak itu untuk berobat. Ya aku
tak ingin bapak itu sakit, aku merasa ada sesuatu yang teramat spesial dari
sosok tua itu.
“Bagaimana
Pak, sudah mendingan kan? Sekarang bapak mau kemana? Biar saya antar, kasihan
bapak kalau pulang sendiri.” Ya, di klinik ini aku menemani bapak itu, ia
tampak gelisah ingin sekali bergegas pulang menemui istrinya yang sedang sakit,
bapak itu pun bertekad untuk pulang mengendarai kendaraan sendiri, tapi aku tak
lantas membiarkannya, aku antar bapak itu ke rumahnya. Aku khawatir dengan
kondisi bapak itu.
******
“Ini
pak rumahnya?” Ya, waktu sudah berganti dari sore hari menjadi gelap, tak ku
bayangkan jarak rumah bapak itu dengan kantornya sangat jauh, sekitar 3 jam
perjalanan dengan motor. Aku terheran-heran berdiri di depan rumah bapak itu,
belum bisa berpikir setiap hari bapak itu pergi bekerja dengan jarak yang
ditempuh tidaklah cukup dekat. Aku melihat sambutan dari kedua anak bapak yang
sudah cukup besar, kehangatan keluarga yang aku rasakan menjadikan aku semakin
rindu dengan kampung halaman.
“Silahkan
masuk Mas, Bapak kenapa? Kenapa tangan bapak? Mas kenapa Bapak saya?” Ya
untaian pertanyaan yang menghujam aku dari salah satu anak bapak yang usaianya
kira-kira 15 tahun, aku pun masuk dan menceritakan semua kronologi kejadian
yang telah terjadi pada saat tadi. Kedua anak bapak tak henti-hentinya memijat
badan si Bapak tersebut, tak lupa sang Istri yang sejatinya masih bergelut
dengan rasa sakit menyediakan aku segelas teh hangat, dan beberapa gorangan. Ya
meski sederhana, tapi ini sudah lebih dari cukup, aku merasakan nikmatnya
keluarga ini, menikmati sambutan hangat dari kedua anaknya bapak, sang istri
dan sosok bapak tua itu yang tak henti-hentinya mengucap terima kasih kepadaku.
Malam
sudah semakin pekat, suara khas pedesaan terdengar nyaring di telinga, gemercik
air sungai dan serempak suara jangkrik yang saling bersautan satu sama lain,
tak jarang ada suara kodok yang menyambar ketika kita berbicara panjang lebar.
“Adik
menginap di sini saja ya, balik besok pagi. Sudah terlalu malam kalau adik balik
sekarang, jalanan di sini sepi. Rawan kejahatan”. Istri bapak itu menawariku
untuk singgah di tempat mereka malam ini saja, ya aku tak bisa apa-apa, demi
kebaikanku aku pun mengiyakan tawaran ibu itu untuk menginap di rumah bapak.
Dingin
malam ini menutup akhir cerita hari ini, Ya mungkin cerita seharian tadi tak
cukup enak dialami karena kejadian kecelakaan itu, tapi dibalik itu aku
menemukan keluarga baru, keluarga yang sejatinya sama dengan apa yang aku
rasakan ketika di kampung halaman. Bapak, Ibu, dan Kedua adik ku. Aku
merindukan mereka semua yanga da di rumah, tapi aku masih tetap berjanji pada
diriku sendiri, pantang pulang sebelum sukses. Aku ingin pulang ke rumah dengan
segala kesuksesanku, memberikan yang terbaik untuk orang-orang rumah.
Ya, semoga aku bisa menjadi pelangi ketika hujan sudah reda, semoga aku bisa menjadi pelita, menjadi sesuatu yang bisa diharapkan dan dibanggakan kedua orang tuaku kelak, karena aku tak mau menyia-nyiakan usaha mereka berdua menyekolahkan aku jauh-jauh di kota ini.
Ya, semoga aku bisa menjadi pelangi ketika hujan sudah reda, semoga aku bisa menjadi pelita, menjadi sesuatu yang bisa diharapkan dan dibanggakan kedua orang tuaku kelak, karena aku tak mau menyia-nyiakan usaha mereka berdua menyekolahkan aku jauh-jauh di kota ini.
Ya
memang ini tak gampang, tapi aku yakin kalau tetap berusaha semua akan indah
pada waktunya.
***Selesai***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar