Sabtu, 29 Maret 2014

SABTU KE DUA PULUH

Pagi ini, seperti biasa aku mengawali pagi dengan membasuh raga ini dengan air wudhu untuk melakukan kewajibanku sebagai ciptaanNya, setelah itu aku pun kembali berbaring di atas tempat tidurku, meski ada anjuran yang menyatakan tidak baik tidur lagi ketika selesai sholat shubuh atau tidur di pagi hari. Tapi bukan itu permasalahannya.. Namun ada yang ingin aku ceritakan, ya hari ini adalah hari sabtu.

Sabtu bagiku terasa spesial, meskipun semua hari saat ini semakin spesial saat sudah mengenalmu. Ah entahlah ini bukan gombalan di pagi hari, tapi ini adalah yang aku rasakan pagi ini. Pagi ini di hari sabtu adalah sabtu ke dua puluh yang sudah kita lewati bersama, aku masih ingat bagaimana kita selalu menikmati sabtu dengan cara yang sederhana namun kadang dengan cara yang tidak sebagaimana mestinya, sabtu pertama kita mulai 16 November 2013 dan sekarang sampai sabtu ke dua puluh 29 Maret 2014. Lumayan cukup jauh kita berbagi cerita, berbagi canda, berbagi masalah ataupun yang lainnya.

Semoga kita tetap bersatu untuk melewati sabtu-sabtu ke depannya, dengan cara kita, dengan semua tingkah laku kita yang bisa membuat diri kita menjadi bahagia bahkan orang lain yang melihatnya pun ikut bahagia. Ya mungkin ini ucapan di pagi hari yang cerah ini. Atas nama langit yang cerah ini, angin yang berhembus semilir ini, jarak yang cukup jauh ini. Dari mojokerto aku ucapkan, aku mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Selamat sabtu ke dua puluh untuk kamu kesayanganku, Firdauzy Nur Annisa.


Mojokerto, 29 Maret 2014. 10.23 WIB


Sabtu, 18 Januari 2014

SADARKAH KAU?

Kenapa kau berani membukakan pintu ruang tamu, ketika aku tak sedang di sana?
Mempersilakan ia masuk, walau hanya sekadar bercengkrama sesaat..
Dan sedihnya lagi, mengapa kau tak pernah menceritakan itu semua?
Aku mencoba kuat
Tapi entah rasa ini ingin sekali marah, tapi nyatanya aku tak bisa
Ingin sekali aku meluapkan kekecewaan, tapi aku tak tega..
Entahlah...
Ini memang sudah terlewatkan, tapi mengapa aku seraya tak ikhlas melepaskan
Melihat foto-foto itu, dengan gaya khasnya.
Melihat senyum semringah antar keduanya
Menebar kerinduan yang mungkin kalian anggap biasa, tapi untukku?
Itu sangat luar biasa, dan tidak biasa. Bagiku..
                       
            Jujur aku sangat kecewa
            Kecewa bukan karena apa-apa
            Tapi karena kau tak pernah cerita
            Berfoto berdua dengannya
            Meski aku tak tahu siapa yang mengajak berfoto
Gaya berfotomu, ekspresi wajahmu? Semua jelas terpampang nyata
            Kau sangat bahagia, terlihat senyummu sangat semringah. Ah Entahlah..
            Tapi aku yakin saat itu kau sedang asik bersamanya..
           

Kecewa? Jelas
Semoga kau menyadarinya.....


18 Januari 2014, 22.22 WIB

Selasa, 14 Januari 2014

LAGI DAN LAGI

Semakin hari semakin istimewa
Semakin ku mencinta
Semakin banyak rasa
Semakin hari semakin terpesona
Semakin ku menikmatinya
Semakin ku terpana
Semakin ...
Ku ingin selalu bersama


14 Januari 2014, 18.10 WIB

MERUMPUT LAGI

Hujan tak menyurutkan tekad kami
Kami berangkat dengan sejuta harap
Bukan sekadar mencari hiburan, tapi juga kemenangan
Dingin? Memang..
Tapi semua tak berarti jika kita sudah bersama
Bergerak bersama, bernyanyi bersama dengan irama yang menghentak
Menghentak semua naluri yang ada di jiwa dan raga ini
Tak ingin melewatkan sedikit pun waktu dengan sia-sia di sini

                        Lama tak menginjakkan kaki di sini
                        Di tribun yang sudah mulai tergerus zaman
                        Berjejer bersatu untuk tujuan yang sama
                        Atas nama suatu kebanggan singo edan
                        Akhirnya saat ini kami hadir nyata di tempat ini
                        Mencium harum rumput sehabis hujan
                        Benar-benar menggugah semangat dan tekad kami

Fokus? Jelas
Tapi lebih fokus lagi untuk mendukung..
Ada orang yang duduk berduaan dengan pasangannya..
Ada orang yang bergerombol dengan komunitasnya..
Ada orang yang berlalu lalang manawarkan dagangannya..
Ada orang yang mengamankan semua gerak gerik kita..
Ya...
Kami memang berbeda
Kami hadir dari seluruh penjuru nusantara
Tapi yakinlah kita hanya satu rasa, satu warna, satu jiwa
Untuk satu nama.. AREMA INDONESIA


                                                                                    14 Januari 2014, 01.01 WIB

Minggu, 12 Januari 2014

CERITA DI SETIAP PERJALANAN

Hari ini judulnya seperti “Fakultas Sastra”, ya hari ini banyak rasa banyak warna. Benar-benar cerita segala rasa.

Ku bangun pagi bersiap meluncur ke kota perantauanku, untuk menuntut ilmu. Tapi tak ku pungkiri aku kembali ke kota itu dengan sejuta rindu yang sudah mengkristal bahkan mengeras di jiwa maupun raga ini. Ya aku merindukan sosok perempuan yang sejatinya ada di kota itu. Ingin segera ku bergegas sampai di kota itu dan segera menemuimu, memelukmu, melampiaskan semua kerinduan ini bersamamu. Tapi, semua tidak berjalan mulus, ya di perjalanan ku menuju ke kota itu, ban kendaraan yang aku kendarai bocor di tengah jalan, aku pun sempat mengeluh, mengeluh karena harus kepanasan, mengeluh harus mendorong sendirian, mengeluh mengapa ini semua terjadi di saat seperti ini. Aku mengeluh....! Tapi mengapa aku serasa menikmatinya? Ya saat itu di benakku terpikir mungkin bersakit dahulu bersenang kemudian, inilah yang dinamakan cerita di setiap perjalanan. Jadi aku nikmati dan jalani saja cerita itu sesuai skenario semesta.

Panas terik siang ini tak ku gubris sedikit pun, aku terus mendorong motor yang ban belakangnya bocor, sampai ku menemui tukang tambal ban, ya! Akhirnya ku menemukan tukang tambal ban? Tapi nyatanya tutup! “Maaf mas, hari ini minggu tambal bannya libur” bapak tua itu berkata padaku. Aku bisa apa? Ya, hanya bisa tersenyum dan berusaha mencari tempat lain, mungkin semesta belum mengizinkan bapak itu mendapat rizki yang dilewatkan saya. Gemblegar guntur mulai bersautan, mendung mulai merapat bersiap mencipratkan segelontor air dari langit, aku terus mendorong motor matic ini. Di jalanan naik, truk gandeng, bus, mobil, semua mengiringiku. Ah indahnya aku berjalan sendirian di jalan seperti ini.

Sampailah di tempat kedua, tambal ban! Semoga saja buka, ya akhirnya remaja seusiaku menyambutku dengan semringah, “nambal mas? Monggo” .

*****
Langit mulai menitihkan butir-butir air yang bergerombol, namun tak seberapa banyaknya dibanding butir-butir keringat yang mengucur dari kepalaku ketika mendorong kendaraan tadi. Tapi yasudahlah nikmati. Aku mulai melanjutkan perjalanan menuju kota itu, tak sabar ingin sampai dan melepas lelah. Belum juga sampai, cerita di perjalanan terjadi lagi, ya kali ini hujan yang membuat cerita. Hujan lebat menyambutku ketika sampai di ujung kota itu, aku tak lantas berhenti berteduh ataupun memakai jas hujan, tapi aku senantiasa menikmati hujan dengan caraku sendiri, ya tetap mengendarai dengan sedikit nyanyian untuk mengusir rasa jengkel sebenarnya. Mulai dari sepatu, celana, jaket, tas, semua basah. Tapi aku tak mengeluh, karena semua sudah aku sengaja. Entahlah, saya bukan tipe orang yang suka memakai jas hujan ketika hujan datang, karena hujan selalu bisa dinikmati dengan cara apapun, bukan untuk dihindari.

Hujan membuat daya laju kendaraanku sedikit berkurang, karena daya penglihatan sedikit terganggu dan genangan air yang membuat jalanan licin, aku tak mau terjadi apa-apa, aku pun menikmatinya dengan mengendarai pelan-pelan sampai ke tempat yang aku tuju. Yaah akhirnya sampai juga di tempat ini, tempat yang sudah aku telantarkan selama liburan perkuliahan berlangsung. Ya tempat ini, kost yang mempunyai banyak kenangan dan cerita manis yang membalutnya.

*****
Setelah membersihkan badan, merapikan tempat tidur dan segala perabotanku yang terkena hujan. Aku terbaring di atas ranjang ukuran 1,5 x 1 meter ini, tak lupa aku memberi kabar kepada kedua orang tuaku, dan tentunya aku memberikan kabar kepadamu kalau aku sudah sampai di tempat ini.

Setengah jam, satu jam kemudian, kamu datang menghampiri ku dengan sejuta senyum terpampang nyata di depanku, aku binggung harus berkata apa, ingin jingkrak-jingkrak tapi aku masih kelelahan karena cerita di perjalanan tadi. Dengan gaya khasmu kamu menceritakan semua apa yang ingin kau ceritakan, dan aku pun dengan gaya khasku memandangimu tak kenal waktu, ya karena menurutku memandangimu adalah ibadah yang wajib jika kita sedang bersatu. Sesekali aku membuat suasana menjadi ricuh, dan kamu meresponnya. Yah sesederhana itu, kita lewati waktu bersama, lelah yang menjalar di seluruh bagian tubuhku serasa tak berarti ketika bertemu denganmu, aku seperti dipijieti sepuluh bidadari, dan dinyanyikan lagu payung teduh, sungguh rileks dan tenang. Ah istimewanya kamu sampai bisa membuatku merasa seperti itu. Mungkin ini berlebihkan? Tapi aku rasa tidak, karena yang berlebihan hanyalah kampanye caleg, soal mengagumimu? Soal mencintaimu? Soal meridukanmu? Semua tak ada yang berlebihan menurutku. Percayalah.

Kita menghabiskan sore itu tetap dengan cara kita berdua, cara yang sekiranya orang lain menganggap tidak ada kata romantisnya, ya kita memang bukan pasangan yang romantis, tapi aku percaya kita adalah pasangan yang termanis. Berlebihan? Sekali lagi tidak.  Menikmati setiap ulah kita, cerita kita, keusilan kita, terselip sikap manja kita yang mengambarkan anak usia sekolah dasar, pedulikah aku semua? Tidak. Entahlah meski manja seperti anak-anak aku tetap menikmatinya, tanpa harus mengeluh, karena inilah yang sejatinya membuat rindu ini semakin hari semakin menumpuk.

Akhirnya setelah beberapa jam kita duduk bersandar di tempat yang sama, kau pun berpamitan pulang, seiring terbenamnya senja. Senja seolah menyambut hari ini dengan suka cita, ya meski kita tak sedang menikmati senja, tapi aku tahu senja sedang asik menikmati kebersamaan kita. Ya semoga kebersamaan ini selalu ada seperti senja yang selalu ada di setiap sore, seperti hujan yang selalu ada di setiap musim hujan, seperti tukang tambal ban di setiap jalanan raya. Terima kasih untukmu hari ini, semoga hari ini bisa menjadi bagian kecil cerita kelak untuk anak cucu, Ya semoga saja....

Selamat istirahat kamu, semoga Tuhan selalu menyertai hubungan kita berdua. Amin  {}


                                                                                    12 Januari 2014 / 22.02 WIB


Minggu, 05 Januari 2014