Hari
ini judulnya seperti “Fakultas Sastra”, ya hari ini banyak rasa banyak warna. Benar-benar
cerita segala rasa.
Ku
bangun pagi bersiap meluncur ke kota perantauanku, untuk menuntut ilmu. Tapi
tak ku pungkiri aku kembali ke kota itu dengan sejuta rindu yang sudah mengkristal
bahkan mengeras di jiwa maupun raga ini. Ya aku merindukan sosok perempuan yang
sejatinya ada di kota itu. Ingin segera ku bergegas sampai di kota itu dan
segera menemuimu, memelukmu, melampiaskan semua kerinduan ini bersamamu. Tapi,
semua tidak berjalan mulus, ya di perjalanan ku menuju ke kota itu, ban
kendaraan yang aku kendarai bocor di tengah jalan, aku pun sempat mengeluh,
mengeluh karena harus kepanasan, mengeluh harus mendorong sendirian, mengeluh mengapa
ini semua terjadi di saat seperti ini. Aku mengeluh....! Tapi mengapa aku serasa menikmatinya? Ya saat itu di benakku terpikir mungkin bersakit dahulu bersenang
kemudian, inilah yang dinamakan cerita di setiap perjalanan. Jadi aku nikmati
dan jalani saja cerita itu sesuai skenario semesta.
Panas
terik siang ini tak ku gubris sedikit pun, aku terus mendorong motor yang ban
belakangnya bocor, sampai ku menemui tukang tambal ban, ya! Akhirnya ku
menemukan tukang tambal ban? Tapi nyatanya tutup! “Maaf mas, hari ini minggu tambal
bannya libur” bapak tua itu berkata padaku. Aku bisa apa? Ya, hanya bisa tersenyum
dan berusaha mencari tempat lain, mungkin semesta belum mengizinkan bapak itu
mendapat rizki yang dilewatkan saya. Gemblegar guntur mulai bersautan, mendung
mulai merapat bersiap mencipratkan segelontor air dari langit, aku terus
mendorong motor matic ini. Di jalanan naik, truk gandeng, bus, mobil, semua
mengiringiku. Ah indahnya aku berjalan sendirian di jalan seperti ini.
Sampailah
di tempat kedua, tambal ban! Semoga saja buka, ya akhirnya remaja seusiaku
menyambutku dengan semringah, “nambal
mas? Monggo” .
*****
Langit
mulai menitihkan butir-butir air yang bergerombol, namun tak seberapa banyaknya
dibanding butir-butir keringat yang mengucur dari kepalaku ketika mendorong
kendaraan tadi. Tapi yasudahlah nikmati. Aku mulai melanjutkan perjalanan
menuju kota itu, tak sabar ingin sampai dan melepas lelah. Belum juga sampai, cerita di perjalanan terjadi lagi, ya kali ini hujan yang membuat cerita. Hujan
lebat menyambutku ketika sampai di ujung kota itu, aku tak lantas berhenti
berteduh ataupun memakai jas hujan, tapi aku senantiasa menikmati hujan dengan
caraku sendiri, ya tetap mengendarai dengan sedikit nyanyian untuk mengusir
rasa jengkel sebenarnya. Mulai dari sepatu, celana, jaket, tas, semua basah.
Tapi aku tak mengeluh, karena semua sudah aku sengaja. Entahlah, saya bukan
tipe orang yang suka memakai jas hujan ketika hujan datang, karena hujan selalu
bisa dinikmati dengan cara apapun, bukan untuk dihindari.
Hujan
membuat daya laju kendaraanku sedikit berkurang, karena daya penglihatan
sedikit terganggu dan genangan air yang membuat jalanan licin, aku tak mau
terjadi apa-apa, aku pun menikmatinya dengan mengendarai pelan-pelan sampai ke
tempat yang aku tuju. Yaah akhirnya sampai juga di tempat ini, tempat yang
sudah aku telantarkan selama liburan perkuliahan berlangsung. Ya tempat ini,
kost yang mempunyai banyak kenangan dan cerita manis yang membalutnya.
*****
Setelah
membersihkan badan, merapikan tempat tidur dan segala perabotanku yang terkena
hujan. Aku terbaring di atas ranjang ukuran 1,5 x 1 meter ini, tak lupa aku
memberi kabar kepada kedua orang tuaku, dan tentunya aku memberikan kabar
kepadamu kalau aku sudah sampai di tempat ini.
Setengah
jam, satu jam kemudian, kamu datang menghampiri ku dengan sejuta senyum
terpampang nyata di depanku, aku binggung harus berkata apa, ingin
jingkrak-jingkrak tapi aku masih kelelahan karena cerita di perjalanan tadi. Dengan
gaya khasmu kamu menceritakan semua apa yang ingin kau ceritakan, dan aku pun
dengan gaya khasku memandangimu tak kenal waktu, ya karena menurutku
memandangimu adalah ibadah yang wajib jika kita sedang bersatu. Sesekali aku
membuat suasana menjadi ricuh, dan kamu meresponnya. Yah sesederhana itu, kita
lewati waktu bersama, lelah yang menjalar di seluruh bagian tubuhku serasa tak
berarti ketika bertemu denganmu, aku seperti dipijieti sepuluh bidadari, dan
dinyanyikan lagu payung teduh, sungguh rileks dan tenang. Ah istimewanya kamu
sampai bisa membuatku merasa seperti itu. Mungkin ini berlebihkan? Tapi aku
rasa tidak, karena yang berlebihan hanyalah kampanye caleg, soal mengagumimu? Soal
mencintaimu? Soal meridukanmu? Semua tak ada yang berlebihan menurutku.
Percayalah.
Kita
menghabiskan sore itu tetap dengan cara kita berdua, cara yang sekiranya orang
lain menganggap tidak ada kata romantisnya, ya kita memang bukan pasangan yang
romantis, tapi aku percaya kita adalah pasangan yang termanis. Berlebihan?
Sekali lagi tidak. Menikmati setiap ulah
kita, cerita kita, keusilan kita, terselip sikap manja kita yang mengambarkan
anak usia sekolah dasar, pedulikah aku semua? Tidak. Entahlah meski manja seperti
anak-anak aku tetap menikmatinya, tanpa harus mengeluh, karena inilah yang
sejatinya membuat rindu ini semakin hari semakin menumpuk.
Akhirnya
setelah beberapa jam kita duduk bersandar di tempat yang sama, kau pun
berpamitan pulang, seiring terbenamnya senja. Senja seolah menyambut hari ini
dengan suka cita, ya meski kita tak sedang menikmati senja, tapi aku tahu senja
sedang asik menikmati kebersamaan kita. Ya semoga kebersamaan ini selalu ada
seperti senja yang selalu ada di setiap sore, seperti hujan yang selalu ada di
setiap musim hujan, seperti tukang tambal ban di setiap jalanan raya. Terima
kasih untukmu hari ini, semoga hari ini bisa menjadi bagian kecil cerita kelak
untuk anak cucu, Ya semoga saja....
Selamat
istirahat kamu, semoga Tuhan selalu menyertai hubungan kita berdua. Amin {}
12
Januari 2014 / 22.02 WIB