MASUK
DENGAN SENYUM SEMRINGAH DAN LANGSUNG MENUJU TITIK TERDEPAN PANGGUNG
Selamat
siang rekan-rekan seperjuangan yang hari ini merasakan sensasi bermain monolog,
sudah puas dengan penampilan kalian? Sudah yakin mendapatkan nilai A dari ibu
dosen? Belum yakin dan belum puas? Yaa.. Sama seperti saya di sini yang tampil
dihadapan kalian semua (tersenyum sinis)
DUDUK
DI KURSI MENIKMATI SECANGKIR KOPI.
Kalian
semua di sini pasti mengetahui cerita rakyat sangkuriang, yang mencintai ibunya
sendiri. Yaa? Apakah dia salah soal mencintai ibunya sendiri?
Salah? Kenapa bisa salah?
Salah? Kenapa bisa salah?
MINUM
KOPI KEMUDIAN BERDIRI DAN MENUJU KE DEPAN PANGGUNG
Mungkin
saya orang yang membela sangkuriang jika ia dikatakan salah karena mencintai
ibunya sendiri! Saya pikir sangkuriang tidak salah dengan itu semua. Coba beri
satu alasan mengapa kalian bilang sangkuriang itu salah?
Yaa.
Mungkin tidak asing lagi kata ini di telinga kalian, “soal cinta”, Saya yakin
di usia seperti ini kalian sudah merasakan keberadaan cinta? Entah cinta itu
dari pasangan kalian, dari teman-teman kalian, atau dari orang tua kalian? Itu
semua normal..
Begitu
pula dengan kalian yang mencintai seseorang? Itu Normal..
Kalian mencintai teman kalian? Itu sangatlah wajar..
Kalian mencintai orang tua kalian? Itu memang diharuskan, karena cinta pertama dan terakhir adalah untuk Beliau berdua.
Kalian mencintai teman kalian? Itu sangatlah wajar..
Kalian mencintai orang tua kalian? Itu memang diharuskan, karena cinta pertama dan terakhir adalah untuk Beliau berdua.
Tapi
apa yang salah dengan cinta ini? (tersenyum sinis)
Cinta
tak pernah salah datangnya kepada siapa, cinta tak pernah mempermasalahkan
kepada siapa ia bersinggah..
kapan
ia datang,
kapan
ia pergi.
Sekali
lagi tak ada yang salah dalam nama cinta.
Pernah
jatuh cinta yang salah?
Dengan siapa?
Dengan siapa?
Kenapa
bisa salah?
Ingat,
cinta tak pernah salah!
Kenapa
kalian bilang kalau pernah jatuh cinta yang salah?
Salah
karena jatuh cinta dengan hewan? Itu normal!
Salah
karena jatuh cinta kepada sesama jenis? Itu masih normal!
Terus jatuh cinta yang salah dengan siapa? Kenapa kalian diam? Saya bertanya..
Terus jatuh cinta yang salah dengan siapa? Kenapa kalian diam? Saya bertanya..
MENGUSAP
KERINGAT SAMBIL MENYERUPUT KOPI LAGI (KEMBALI DUDUK)
TERDIAM
SEJENAK..
MENDENGAR
SUARA ANJING DARI SAMPING PANGGUNG
Hei
itu suara anjing siapa? Tidak tahu apa saya sedang berbicara di depan orang
banyak!
Hei,
itu suara anjing siapa? Kau tak bisa membuat anjingmu terdiam?
Hei
apakah kau tak mendengar pembicaraanku? Suruh anjingmu diam!
BERDIRI
SAMBIL MENUJU KE SUMBER SUARA
Hei
suara anjingmu mengganggu sekali, tolong suruh dia pergi! Pergi menjauh dari
tempat ini!
Hei...
Kau tak bisa menyuruh anjingmu pergi?
Apakah
kau begitu mencintai anjingmu? Sampai tak tega menyuruh ia pergi?
Yaaa.. setidaknya suruh ia diam sebentar saja lah!
Yaaa.. setidaknya suruh ia diam sebentar saja lah!
Hei!
Kalau anjing itu mencintai engkau, ia akan melakukan apa yang kau perintahkan!
Tapi
kenapa anjing itu tetap bersuara?
Hei suruh anjingmu itu diam!
Hei suruh anjingmu itu diam!
Bukankah
kalau kau cinta anjingmu, dan anjingmu cinta kau. Kalian harus saling mengerti?
Tapi mengapa anjing itu tak menurut apa katamu?
Sudah
suruh ia terdiam! Kalau tidak, suruh dia pergi dari sini!
(suara
anjing sudah terdiam)
NAH!
Begini lebih baik!
Apalah
arti mencintai sesuatu, tapi ia tak pernah mengerti kemauan kita?
Kalau
kita yang mengerti saja, dan ia tak pernah mengerti. Buat apa cinta itu ada?
Bukankah
cinta harus saling mengerti? INGAT!
Yaa..
Bisakah itu disebut cinta yang salah? Yaa mungkin bisa...
Sulit
memang melepas sesuatu yang kita cintai!
Karena
cinta sejatinya saling menguatkan, bukan melepaskan!
Melepaskan
yang tak pasti? Ya itu memang harus!
Buat
apa mempertahankan cinta yang tak pasti ujungnya? Kita sudah dewasa! Tahu mana
yang terbaik buat kita. Jangan kau berlarut-larut dengan sesuatu yang itu-itu
saja. Toleh sekitarmu, masih banyak yang mencintai kita dan tentunya yang
membutuhkan cinta kita.
Apakah
di dalam cinta harus ada saling paksa-memaksa?
Ya
mungkin ada, dalam keadaan tertentu kita harus memaksa sesuatu yang kita
cintai! Itu pasti! Sekali lagi itu demi cinta, cinta bisa mengubah segalanya!
Menyuruh
anjing tadi pergi dari sini? Itu sulit kalau si pemilik benar-benar
mencintainya? Tapi pada kenyataannya? Si pemilik tetap menyuruh anjing itu
pergi meninggalkannya. Yaa sekali lagi buat apa mempertahankan cinta kalau
ujung-ujungnya ada yang tersakiti? Keduanya tidak saling mengerti ?
Kadang
cinta memang bersyarat, itu bukan cinta yang memintanya. Tapi orang yang
disinggahi yang memintanya.
Cinta
memang gratis ketika mendapatkannya, tapi ketika memperjuangkannya? Tak jarang
kita bertarung dengan orang lain, bersaing mendapatkannya.
Cinta
memang nikmat jika cinta itu benar-benar
tepat kepada orang yang disinggahinya, tapi tak jarang demi memperjuangkan
orang yang tepat itu kita melakukan apa saja yang harus dihadapi. Ya, memang
cinta butuh pengorbanan.
Pernah
mempunyai rasa cinta kepada Orang tua? Saya yakin semua pasti merasakan cinta
yang lebih kepada orang tua. Terutama sosok ibu.
Ibu
memang cinta pertama dan terakhir, tak bisa dijelaskan dengan banyak kata apa
saja yang sudah dilakukan ibu terhadap kita, yang terbaik demi kita selalu
Beliau lakukan. Itu karena apa? Itu karena Ibu juga mencintai kita dengan
sepenuh jiwa.
Memang,
terkadang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Semua harus sesuai porsi dan
takarannya. Namun jika keadaan yang membuat kita bersikap lebih? Kita bisa apa?
Mencintai
ibu sendiri seperti cerita sangkuriang apakah salah?
Siapa
yang mengatakan salah?
Mengapa
bisa disebut salah?
Yaaa...
Saya sependapat dengan kalian.
Sangkuriang
dan rasa cintanya tak salah, yang salah adalah keadaan!
Yaaa keadaan yang memaksanya untuk berbuat seperti itu, ia ingin mempunyai status sebagai suami istri, yang tak lain tak bukan istri yang diidamkan adalah ibunya sendiri.
Yaaa keadaan yang memaksanya untuk berbuat seperti itu, ia ingin mempunyai status sebagai suami istri, yang tak lain tak bukan istri yang diidamkan adalah ibunya sendiri.
Apakah
cinta memang harus berujung pada status yang pasti?
Bukankah
akan percuma jika ada status tapi salah satu masih merasa tersakiti?
Bukankah
akan percuma jika ada status tapi salah satu masih merasa kecewa?
Bukankah
akan percuma jika ada status tapi salah satu masih merasa sepi?
Bukankah
akan percuma jika ada status tapi salah satu masih merasa sendiri?
Tapi
memang benar, jika cinta mempunyai tujuan akhir. Yaa status yang pasti!
Memang
tak semudah membalikkan telapak tangan ketika memperjuangkan status dalam
bercinta. Cinta bisa mengubah segalanya, mengubah pola pikir orang yang
disinggahinya, sangkuriang bersedia membuat sampan dan membendung sungai
citarum demi sebuah status perkawinan dengan wanita yang ia cintainya.
Namun
mengapa ia gagal dalam menggapainya? Ya sekali lagi karena cinta harus saling
mengerti keduanya. Cinta harus ada usaha dari setiap individunya, kalau hanya
sangkuriang yang usaha, dan wanita itu tak ikut usaha, berarti wanita itu tak
mencintainya.
Buat
apa memperjuangkan cinta kepada orang yang tidak mencintai kita?
Buat
apa memperjuangkan cinta kepada orang yang bukan seharusnya menjadi milik kita?
Yaaa..
Cinta memang kejam, bisa mengalahkan tajamnya samurai dari jepang.
Bisa
mencincang hati atau perasaan seseorang ketika gagal dalam bercinta.
Bisa
membuat yang kuat menjadi tak berdaya sama sekali di hadapan cinta.
Ya
itulah cinta, kadang manis, kadang kejam, kadang tak pasti.
Tapi
sekali lagi tak ada yang salah dalam nama cinta....
...SELESAI...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar