Sorak sorai
para suporter sore ini, tak mengalahkan jingganya senja yang menyala bagai
raungan singa. Gemuruh stadion mengguncang semangat kami untuk tetap mendukung
dari atas sini, dari anak-anak tangga tribun yang mulai terkoyak oleh kerasnya
zaman yang tak bisa akrab dengan keadilan, ku memandang jauh di tengah lapangan
para punggawa singo edan melakukan
pemanasan sebelum menerkam lawannya yang senantiasa menghalangi laju kemenangan
mereka.
Kami pun tak hanya duduk diam menonton
pertandingan sore ini. Kami berdiri, bersorak mengumandangkan lagu kebesaran
kami dengan penuh euforia, dengan
penuh kebanggan dan krativitas dengan segala atribut yang kami kenakan. Gemuruh
suara penabuh drum yang senantiasa menghentakkan semangat kami dan semangat
para punggawa Singo Edan, lambaian
pemegang big flag menandakan
kreativitas kami dimulai, syal kami bentangkan mengikuti intruksi dari
koordinator kami, kami bernyanyi, kami menari, dan tentunya kami ingin tim kami
meraih poin penuh dalam pertandingan sore ini.
Anthem dari
Fifa pun sudah diputar oleh panitia penyelenggara pertandingan, kini saatnya
kami sejenak menghentikan krativitas kami untuk menghormati para punggawa yang
sudah mulai memasuki lapangan pertandingan, tak lama kemudian kedua tim saling
bersalaman untuk menandakan fair play di
antara kedua tim, wasit pun memanggil kedua kapten untuk melakukan koin toss guna menentukan siapa pemegang bola
pertama dalam pertandingan sore ini. Peluit babak pertama pun sudah berbunyi,
dan kami mulai bersorak-sorak untuk memberi semangat kepada tim Singo Edan.
“Yo ayo, ayo Arema. Sore ini, kita harus
menang! Yo ayo ayo ayo Arema, Sore ini kita harus menang” begitulah lagu
pertama yang kami nyanyikan setiap kali pertandingan baru saja dilangsungkan,
entah siapa yang menciptakan lagu itu, namun kami selalu bersemangat untuk
menyanyikannya seperti halnya singa yang bersemangat untuk menerkam mangsanya.
Tak jarang lagu kami pun sering memakai nada celaan ataupun rasis kepada tim
lawan, namun itu semua adalah profesionalitas dalam 90 menit untuk mendukung
tim kami, di luar stadion memang kami semua saudara dengan suporter lain, namun
di dalam pertandingan, kami menjadi lawan yang saling mengalahkan dalam
mendukung tim kebanggan dengan krativitas kita masing-masing.
Jika tim
kebanggaan kami bermain tidak maksimal, maka kami pun semakin bersemangat untuk
bernyanyi memberi semangat para punggawa singa, entah itu dengan lagu yang
mencela, dengan dentuman drum yang keras, ataupun dengan cara yang tak
seharusnya dalam sebuah pertandingan sepak bola, yaitu menyalakan kembang api
atau red flare.
“Woy mas, kembang apine dipateni mas, sing mburi gak ketok
lapangan e mas, podo mbayar e iki mas”. Itu adalah komentar yang sering kami
dengar ketika kami menyalakan kembang api atau mempermainkan bendera besar, dan
sore ini kebetulan komentar itu berasal dari cewek berbaju biru dengan tulisan “Arema
Is My Second Religion” cewek berkacamata frame hitam tebal itu memang sering terlihat di tribun atas stadion
tim kami, Ia sering terlihat bersama lelaki tua yang juga memakai baju yang
sama. Berbeda dengan dirinya, sosok lelaki yang bersamanya lebih banyak
menikmati pertandingan tanpa komentar kepada kami yang menyalakan kembang api.
“Sepurane mbak, kene iki suporter, duk
penonton sing meneng, tugas e kene iku ngkeki support gawe Arema, lak sampean
pengen nontok anteng yoh nontok nang omah ae mbak”, salah satu dari kami
menghampiri cewek berkacamata itu.
“Yoh
aku ngerti sam, tapi yoh ga ngunu pisan seh sam, ndukung yoh ndukung, tapi yoh
ga usah nyumet kembang api ngunu tah, sakno wong-wong kenek asap e, pikirno
pisan mas wong-wong sing nonton iki”, celoteh penuh sinis pun terlontar dari
cewek berkacamata tebal itu. Kami terdiam sejenak, mendengar seruan dari cewek
berkacamata tebal itu, seruan yang menjadi intropeksi diri untuk kami, memang
benar apa yang dikatakan olehnya selain kita mendukung para punggawa tim
kebanggan, kami juga harus memikirkan para suporter lain yang ingin menikmati
pertandingan sepak bola yang sewajarnya, tanpa ada gangguan dari berbagai
pihak.
*******
Babak
pertama pun telah usai, kami semua rehat sejenak menikmati indahnya senja yang
hampir menutup auranya, lalu lalang penjual asongan yang tak pernah lelah
menghampiri kami untuk menawarkan dagangannya, mereka pun sangat bergantung
kepada kami, karena berkat kami dagangan mereka pun terjual, kami beranggapan
jika tim kami selalu bermain bagus, stadion pun juga akan penuh dengan para
suporter, dan jikalau stadion penuh, maka para penjual makanan dalam stadion
pun juga akan terbantu dari segi ekonominya. Kita semua adalah satu kesatuan
yang memang diharuskan untuk saling bersimbiosis mutualisme layaknya kerbau
dengan burung pipit yang selalu bekerja sama.
Senja
pun masih belum beranjak dari atas stadion, ia masih memancarkan siluet
kemenangan singa di dalam lapangan, suasana tegang yang semula berselimut di antara
kita, menjadi suasana hiruk-pikuk canda tawa antar suporter yang saling
mengulas pertandingan babak pertama tadi. “WOY
BONEK WOY, KEJAREN WOY!!” seruan salah satu suporter itu membuyarkan canda
tawa kami, kami melompat dengan tongkat bendera yang masih kami genggam erat,
kami mencoba mengejar cowok berbaju hijau dengan tulisan Bonek
Mania Surabaya. Entah bagaimana asal-muasal perseteruan kami dengan bonekmania, yang kami ketahui adalah
kami adalah rival yang saling menghancurkan ketika bertemu, di mana saja dan
kapan saja.
Dengan
semangat kami mengejar lelaki hijau itu. Bagai singa yang mengejar mangsanya. “Sam bonek e kenek sam!” beberapa dari
kami pun langsung menghajar lelaki hijau itu tanpa ampun, dengan tongkat yang
dibawanya sebagian dari kami mencabuk dari berbagai arah. Ingin sekali aku ikut
menghajarnya, namun langkahku dihentikan oleh cewek berkacamata tebal, ia
menyeretku duduk di samping lelaki tua yang tak lain adalah bapaknya, dari jauh
aku hanya melihat dengan penuh emosi namun juga sedikit rasa iba, tak tahu
bagaimana jika aku ada di posisi lelali hijau itu. Sepintas terlihat anak kecil
memakai baju hijau-hitam sedang berlari keluar dengan mengeluarkan ponselnya.
Pikiranku menebak siapa yang akan ditelepon oleh anak kecil itu. Bonekmania!
“Lapo seh mbak, sampean nyekeli aku, aku
pengen ngantemi bonek iku, sampah masyarakat!” ujarku dengan penuh emosi.
“Sek, sampean nang kene niat dadi suporter tha dadi preman
sing tawuran sam? Ga isin ta didelok wong akeh nang kene? Durung tentu wong ikumau
salah, lapo kok dikeroyok? sampean ga duwe ati ta sam?” tatapan sinis
langsung menuju ke arahku, sosok perempuan ini memang peduli sekali dengan
siapa saja yang ada dalam stadion.
“Yoh mbuh mbak, sing penting arek iku gawe kaos bonek, dadi
yo kudu dibasmi nang bumi Arema iki, sampean sopo seh kok wani-wanine ngelarang
aku?” sahutku dengan nada tinggi tanpa memperdulikan sosok lelaki
yang berada di sampingnya. “Husssst, rame
ae, niat rame ojok nang kene. Iki ta? Anakku jeneng e Triwida, lak sampean
macem-macem ambe anakku, ayo ambe bapak e sek kene!” Berdirilah lelaki tua
itu dengan nada keras menghujam seluruh organ tubuhku.
“Awakmu iku ga ngerti opo-opo le, lak ngurusi Arema Bonek
mbok sampek Ronaldo main nang arema yoh ga mari-mari, ceritone iku dowo, ojok
main grusak grusuk, sitik-sitik tawuran ae le! Ilingo Aremania iku suporter
cinta damai, arek e kreatif-kratif, jok sampek gara-gara tawuran kesan e
aremania palih elek.” Ujar bapak itu sambil menyuruhku duduk diantara anakanya
dengan beliau. Aku pun mengiyakan semua apa yang dikatakan beliau, memang aku
tak tahu pasti penyebab awal perseteruan kami, kalau pun kami bersiteru itupun
ada yang memulai entah dari kubu kami ataupun kubu mereka.
“Wes sam,
lungguh kene ae. Ayo nyanyi-nyanyi maneh sik Arema menang, jare suporter iku ga
oleh meneng. Ayo semangat sam!” Celoteh Triwida yang mengalihkan
pikiranku dari pertengkaran kembali ke tujuan awal yaitu mendukung tim singo
edan.
“Tak kenal
lelah, dukung Arema. Jadi juara, juara liga, Aremania siap berpesta, salam satu
jiwa untuk Indonesia, Wo uwo uwo Wo uwo uwo!”, nyanyian itu
kami serukan dengan penuh semangat, kami ayunkan syal yang kami kenakan, ku
rasa ada sesuatu yang berbeda dari diri cewek berparas casual ini, ia begitu dewasa dalam menyikapi semua permasalahan, ia
seperti tahu semua tentang tim Arema, ku lihat tatapan matanya ketika bernyanyi
bersama, ku ingat ayunan tangannya ketika menghalangiku untuk bertengkar,
kulihat cara ia berbicara kepadaku, sungguh indah anugerah tuhan saat ini, yang
tak pernah kurasakan sebelumnya di dalam stadion suasana sebahagia ini, apa
akau jatuh cinta pada pandangan pertama? Ya mungkin.
*******
Pertandingan
pun usai dengan skor yang cukup memuaskan, 3 – 0. Pertandingan yang penuh
dengan cerita dan warna yang menghiasinya, ku berpisah dengan grup suporter
lain, aku masih ingin bersama sosok perempuan yang baru saja ku kenal sore itu,
aku ingin mengenalnya lebih dekat, ya mungkin terlalu cepat, namun inilah
naluri lelaki yang sudah lama rindu akan keberadaan sosok pasangan, takkala
mempunyai kegemaran yang sama yaitu mendukung arema.
Ah namun
pikiranku melayang jauh kembali kepada kejadian sore tadi. tiba-tiba pikiranku terbayang
pada anak kecil berbaju hijau yang berlari tadi. Kekhawatiranku sempat
kuceritakan pada Triwida, tapi ia tak menggubrisnya. Dan tepat sekali ketika
keluar dari stadion, penuh sesak orang-orang berbaju hijau yang siap bertempur.
Dan sekali lagi aku melihat anak kecil tadi sedang menuding tepat ke arahku.
Aku mencoba untuk melindungi Triwida karena aku berniat untuk mengantarnya
pulang seusai pertandingan sore ini.
Suasana di
luar stadion sudah porak poranda dengan lemparan batu, kayu, bahkan bom molotov
bak perang di jalur gaza. Ratusan polisi mengamankan bonekmania yang tanpa diketahui mereka hadir di stadion dengan
tidak memakai atribut mereka sebagai bonek, sempat terjadi goresan antara kami Aremania dengan Bonekmania. Suasana semakin kacau, petugas keamanan tidak bisa
bertindak lebih karena semua kendaraan mereka telah terbakar akibat bom
molotov. Aku masih mencari jalan untuk melindungi diri dari pertikaian ini, tak
lupa ku genggam erat tangan perempuan yang senantiasa mendampingiku saat keluar
stadion.
BAAAAAMMM!!!!! Suara itu tepat menuju
punggungku, aku terkapar, ku lihat ke belakang sempat ku lihat anak kecil
berkaos hijau itu membawa sebongkah kayu berlari menjauhiku, aku terjatuh,
Triwida meminta tolong kepada semuanya, aku tak kuat lagi tuk berdiri. Triwida
memelukku dan berteriak sekeras mungkin meminta tolong.
*******
“Mas, udah sadar mas? Pelan-pelan mas, tadi
mas pingsan loh, habis digebuk anak kecil pake kayu. Mas gapapa kan?” sahut
Triwida dengan lembut selagi memberiku secangkir teh hangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar