Sabtu, 28 Desember 2013

ADA CINTA DI LAPANGAN HIJAU

Sorak sorai para suporter sore ini, tak mengalahkan jingganya senja yang menyala bagai raungan singa. Gemuruh stadion mengguncang semangat kami untuk tetap mendukung dari atas sini, dari anak-anak tangga tribun yang mulai terkoyak oleh kerasnya zaman yang tak bisa akrab dengan keadilan, ku memandang jauh di tengah lapangan para punggawa singo edan melakukan pemanasan sebelum menerkam lawannya yang senantiasa menghalangi laju kemenangan mereka.
 Kami pun tak hanya duduk diam menonton pertandingan sore ini. Kami berdiri, bersorak mengumandangkan lagu kebesaran kami dengan penuh euforia, dengan penuh kebanggan dan krativitas dengan segala atribut yang kami kenakan. Gemuruh suara penabuh drum yang senantiasa menghentakkan semangat kami dan semangat para punggawa Singo Edan, lambaian pemegang big flag menandakan kreativitas kami dimulai, syal kami bentangkan mengikuti intruksi dari koordinator kami, kami bernyanyi, kami menari, dan tentunya kami ingin tim kami meraih poin penuh dalam pertandingan sore ini.
Anthem dari Fifa pun sudah diputar oleh panitia penyelenggara pertandingan, kini saatnya kami sejenak menghentikan krativitas kami untuk menghormati para punggawa yang sudah mulai memasuki lapangan pertandingan, tak lama kemudian kedua tim saling bersalaman untuk menandakan fair play di antara kedua tim, wasit pun memanggil kedua kapten untuk melakukan koin toss guna menentukan siapa pemegang bola pertama dalam pertandingan sore ini. Peluit babak pertama pun sudah berbunyi, dan kami mulai bersorak-sorak untuk memberi semangat kepada tim Singo Edan.
Yo ayo, ayo Arema. Sore ini, kita harus menang! Yo ayo ayo ayo Arema, Sore ini kita harus menang” begitulah lagu pertama yang kami nyanyikan setiap kali pertandingan baru saja dilangsungkan, entah siapa yang menciptakan lagu itu, namun kami selalu bersemangat untuk menyanyikannya seperti halnya singa yang bersemangat untuk menerkam mangsanya. Tak jarang lagu kami pun sering memakai nada celaan ataupun rasis kepada tim lawan, namun itu semua adalah profesionalitas dalam 90 menit untuk mendukung tim kami, di luar stadion memang kami semua saudara dengan suporter lain, namun di dalam pertandingan, kami menjadi lawan yang saling mengalahkan dalam mendukung tim kebanggan dengan krativitas kita masing-masing.
Jika tim kebanggaan kami bermain tidak maksimal, maka kami pun semakin bersemangat untuk bernyanyi memberi semangat para punggawa singa, entah itu dengan lagu yang mencela, dengan dentuman drum yang keras, ataupun dengan cara yang tak seharusnya dalam sebuah pertandingan sepak bola, yaitu menyalakan kembang api atau red flare.
“Woy mas, kembang apine dipateni mas, sing mburi gak ketok lapangan e mas, podo mbayar e iki mas”. Itu adalah komentar yang sering kami dengar ketika kami menyalakan kembang api atau mempermainkan bendera besar, dan sore ini kebetulan komentar itu berasal dari cewek berbaju biru dengan tulisan  “Arema Is My Second Religion” cewek berkacamata frame hitam tebal itu memang sering terlihat di tribun atas stadion tim kami, Ia sering terlihat bersama lelaki tua yang juga memakai baju yang sama. Berbeda dengan dirinya, sosok lelaki yang bersamanya lebih banyak menikmati pertandingan tanpa komentar kepada kami yang menyalakan kembang api.
Sepurane mbak, kene iki suporter, duk penonton sing meneng, tugas e kene iku ngkeki support gawe Arema, lak sampean pengen nontok anteng yoh nontok nang omah ae mbak”, salah satu dari kami menghampiri cewek berkacamata itu.
Yoh aku ngerti sam, tapi yoh ga ngunu pisan seh sam, ndukung yoh ndukung, tapi yoh ga usah nyumet kembang api ngunu tah, sakno wong-wong kenek asap e, pikirno pisan mas wong-wong sing nonton iki”, celoteh penuh sinis pun terlontar dari cewek berkacamata tebal itu. Kami terdiam sejenak, mendengar seruan dari cewek berkacamata tebal itu, seruan yang menjadi intropeksi diri untuk kami, memang benar apa yang dikatakan olehnya selain kita mendukung para punggawa tim kebanggan, kami juga harus memikirkan para suporter lain yang ingin menikmati pertandingan sepak bola yang sewajarnya, tanpa ada gangguan dari berbagai pihak.
*******
            Babak pertama pun telah usai, kami semua rehat sejenak menikmati indahnya senja yang hampir menutup auranya, lalu lalang penjual asongan yang tak pernah lelah menghampiri kami untuk menawarkan dagangannya, mereka pun sangat bergantung kepada kami, karena berkat kami dagangan mereka pun terjual, kami beranggapan jika tim kami selalu bermain bagus, stadion pun juga akan penuh dengan para suporter, dan jikalau stadion penuh, maka para penjual makanan dalam stadion pun juga akan terbantu dari segi ekonominya. Kita semua adalah satu kesatuan yang memang diharuskan untuk saling bersimbiosis mutualisme layaknya kerbau dengan burung pipit yang selalu bekerja sama.
            Senja pun masih belum beranjak dari atas stadion, ia masih memancarkan siluet kemenangan singa di dalam lapangan, suasana tegang yang semula berselimut di antara kita, menjadi suasana hiruk-pikuk canda tawa antar suporter yang saling mengulas pertandingan babak pertama tadi. “WOY BONEK WOY, KEJAREN WOY!!” seruan salah satu suporter itu membuyarkan canda tawa kami, kami melompat dengan tongkat bendera yang masih kami genggam erat, kami mencoba mengejar cowok berbaju hijau dengan tulisan  Bonek Mania Surabaya. Entah bagaimana asal-muasal perseteruan kami dengan bonekmania, yang kami ketahui adalah kami adalah rival yang saling menghancurkan ketika bertemu, di mana saja dan kapan saja.
Dengan semangat kami mengejar lelaki hijau itu. Bagai singa yang mengejar mangsanya. “Sam bonek e kenek sam!” beberapa dari kami pun langsung menghajar lelaki hijau itu tanpa ampun, dengan tongkat yang dibawanya sebagian dari kami mencabuk dari berbagai arah. Ingin sekali aku ikut menghajarnya, namun langkahku dihentikan oleh cewek berkacamata tebal, ia menyeretku duduk di samping lelaki tua yang tak lain adalah bapaknya, dari jauh aku hanya melihat dengan penuh emosi namun juga sedikit rasa iba, tak tahu bagaimana jika aku ada di posisi lelali hijau itu. Sepintas terlihat anak kecil memakai baju hijau-hitam sedang berlari keluar dengan mengeluarkan ponselnya. Pikiranku menebak siapa yang akan ditelepon oleh anak kecil itu. Bonekmania!
Lapo seh mbak, sampean nyekeli aku, aku pengen ngantemi bonek iku, sampah masyarakat!” ujarku dengan penuh emosi.
“Sek, sampean nang kene niat dadi suporter tha dadi preman sing tawuran sam? Ga isin ta didelok wong akeh nang kene? Durung tentu wong ikumau salah, lapo kok dikeroyok? sampean ga duwe ati ta sam?” tatapan sinis langsung menuju ke arahku, sosok perempuan ini memang peduli sekali dengan siapa saja yang ada dalam stadion.
“Yoh mbuh mbak, sing penting arek iku gawe kaos bonek, dadi yo kudu dibasmi nang bumi Arema iki, sampean sopo seh kok wani-wanine ngelarang aku?” sahutku dengan nada tinggi tanpa memperdulikan sosok lelaki yang berada di sampingnya. “Husssst, rame ae, niat rame ojok nang kene. Iki ta? Anakku jeneng e Triwida, lak sampean macem-macem ambe anakku, ayo ambe bapak e sek kene!” Berdirilah lelaki tua itu dengan nada keras menghujam seluruh organ tubuhku.
“Awakmu iku ga ngerti opo-opo le, lak ngurusi Arema Bonek mbok sampek Ronaldo main nang arema yoh ga mari-mari, ceritone iku dowo, ojok main grusak grusuk, sitik-sitik tawuran ae le! Ilingo Aremania iku suporter cinta damai, arek e kreatif-kratif, jok sampek gara-gara tawuran kesan e aremania palih elek.” Ujar bapak itu sambil menyuruhku duduk diantara anakanya dengan beliau. Aku pun mengiyakan semua apa yang dikatakan beliau, memang aku tak tahu pasti penyebab awal perseteruan kami, kalau pun kami bersiteru itupun ada yang memulai entah dari kubu kami ataupun kubu mereka.
“Wes sam, lungguh kene ae. Ayo nyanyi-nyanyi maneh sik Arema menang, jare suporter iku ga oleh meneng. Ayo semangat sam!” Celoteh Triwida yang mengalihkan pikiranku dari pertengkaran kembali ke tujuan awal yaitu mendukung tim singo edan.
“Tak kenal lelah, dukung Arema. Jadi juara, juara liga, Aremania siap berpesta, salam satu jiwa untuk Indonesia, Wo uwo uwo Wo uwo uwo!”, nyanyian itu kami serukan dengan penuh semangat, kami ayunkan syal yang kami kenakan, ku rasa ada sesuatu yang berbeda dari diri cewek berparas casual ini, ia begitu dewasa dalam menyikapi semua permasalahan, ia seperti tahu semua tentang tim Arema, ku lihat tatapan matanya ketika bernyanyi bersama, ku ingat ayunan tangannya ketika menghalangiku untuk bertengkar, kulihat cara ia berbicara kepadaku, sungguh indah anugerah tuhan saat ini, yang tak pernah kurasakan sebelumnya di dalam stadion suasana sebahagia ini, apa akau jatuh cinta pada pandangan pertama? Ya mungkin.
*******
Pertandingan pun usai dengan skor yang cukup memuaskan, 3 – 0. Pertandingan yang penuh dengan cerita dan warna yang menghiasinya, ku berpisah dengan grup suporter lain, aku masih ingin bersama sosok perempuan yang baru saja ku kenal sore itu, aku ingin mengenalnya lebih dekat, ya mungkin terlalu cepat, namun inilah naluri lelaki yang sudah lama rindu akan keberadaan sosok pasangan, takkala mempunyai kegemaran yang sama yaitu mendukung arema.
Ah namun pikiranku melayang jauh kembali kepada kejadian sore tadi. tiba-tiba pikiranku terbayang pada anak kecil berbaju hijau yang berlari tadi. Kekhawatiranku sempat kuceritakan pada Triwida, tapi ia tak menggubrisnya. Dan tepat sekali ketika keluar dari stadion, penuh sesak orang-orang berbaju hijau yang siap bertempur. Dan sekali lagi aku melihat anak kecil tadi sedang menuding tepat ke arahku. Aku mencoba untuk melindungi Triwida karena aku berniat untuk mengantarnya pulang seusai pertandingan sore ini.
Suasana di luar stadion sudah porak poranda dengan lemparan batu, kayu, bahkan bom molotov bak perang di jalur gaza. Ratusan polisi mengamankan bonekmania yang tanpa diketahui mereka hadir di stadion dengan tidak memakai atribut mereka sebagai bonek, sempat terjadi goresan antara kami Aremania dengan Bonekmania. Suasana semakin kacau, petugas keamanan tidak bisa bertindak lebih karena semua kendaraan mereka telah terbakar akibat bom molotov. Aku masih mencari jalan untuk melindungi diri dari pertikaian ini, tak lupa ku genggam erat tangan perempuan yang senantiasa mendampingiku saat keluar stadion.
 BAAAAAMMM!!!!! Suara itu tepat menuju punggungku, aku terkapar, ku lihat ke belakang sempat ku lihat anak kecil berkaos hijau itu membawa sebongkah kayu berlari menjauhiku, aku terjatuh, Triwida meminta tolong kepada semuanya, aku tak kuat lagi tuk berdiri. Triwida memelukku dan berteriak sekeras mungkin meminta tolong.
*******

            “Mas, udah sadar mas? Pelan-pelan mas, tadi mas pingsan loh, habis digebuk anak kecil pake kayu. Mas gapapa kan?” sahut Triwida dengan lembut selagi memberiku secangkir teh hangat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar